Berita > Opini
Festivalisasi TKI
20 Apr 2017 22:46:44 WIB | Tatang Muhtar | dibaca 2505
Ket: LACI adukan Fahri Hamzah ke MKD
Foto: Kompas
Riyadh, LiputanBMI - Fahri Hamzah, ketua Timwas TKI DPR RI merespon protes para BMI Hong Kong -atas cuitannya yang dinilai merendahkan TKI- dengan langsung melakukan kunjungan kerja selama tiga hari ke Hong Kong, 18-20 Februari 2017.

Kedatangan Timwas dengan personil yang lengkap tidak lepas dari vokalnya LSM dan pegiat TKI di Hong Kong terhadap isu-isu ketenagakerjaan.

Lantangnya suara para pegiat TKI di Hong Kong selalu mendapatkan perhatian dari media dan tokoh nasional. Mungkin hal inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para anggota Timwas untuk menunjukkan kinerjanya, “Membela Kepentingan TKI”.

Memang, pegiat TKI di Arab Saudi tidak sevokal dan sebanyak aktivis TKI di Hong Kong. Dari segi permasalahan yang mencuat, sebetulnya jumlah kasus TKI di Arab Saudi masih sangat tinggi.

Para pegiat TKI Arab Saudi sudah menyampaikan keluhan dan harapannya kepada Timwas terkait program amnesti yang digulirkan pemerintah Arab Saudi.

Kali ini para pegiat TKI di Riyadh lebih awas, Timwas ditengarai memberikan perlakuan yang berbeda terhadap aspirasi TKI Arab Saudi. Timwas dinilai tidak peka terhadap kebutuhan ribuan TKI yang ingin pulang melalui amnesti.

Mereka berharap agar Timwas turut menyuarakan desakan kepada pemerintahan Jokowi untuk menyambut amnesti ini dengan sebuah langkah berupa sinergi kebijakan di antara kedua negara.

Apalagi pemerintah RI, sejak 2015 telah mencanangkan program Percepatan Pemulangan WNIO/TKIU (PPWT) setiap tahunnya sebanyak 50000 orang yang akan dilaksanakan hingga 2019.

Seyogyanya, tahun ini pun pemerintah RI membiayai kepulangan WNIO/TKIU seperti yang sudah dilakukan pada tahun 2015 yang berhasil memulangkan TKI bermasalah sebanyak 95 ribu orang dan tahun 2016 sebanyak 41 ribu orang.

Tahun 2015, biaya tiket kepulangan ditanggung oleh negara. Bahkan, saking besarnya dana operasional program PPWT tersebut, para LSM yang turut aktif membantu para TKI pun dijatah ransom yang tidak sedikit.

Tercatat KJRI Jeddah memberikan SR 50 per formulir yang masuk, sementara di Riyadh dipatok USD1200 selama 4 bulan berjalannya program PPWT tahun 2015 untuk masing-masing LSM dan komunitas.

---

Dua minggu yang lalu, Irma Suryani Chaniago dari Nasdem melakukan kunjungan kerja pribadi ke KBRI Kuala Lumpur. Media nasional menulisnya sebagai sidak.

Di sini juga terlihat perlakuan berbeda yang ditunjukkan Timwas. Timwas ke Hong Kong dengan “full team”, sementara saat ke Malaysia hanya kunjungan pribadi. Padahal jumlah WNI/TKI terbesar adanya di Malaysia, bukan di Hong Kong!

Suara-suara TKI di Malaysia mirip dengan suara TKI di Arab Saudi, tidak terdengar berprestasi apalagi bedemonstrasi seperti TKI Hong Kong. TKI Malaysia hanya sering terdengar kabar pada pemberitaan saat terjadinya penggerebekan atau saat kapal yang mengangkutnya karam di lautan.

---

Kembali ke Arab Saudi, hingga minggu ketiga amnesti digulirkan, belum ada tanda-tanda Fahri Hamzah bersama anggota Timwas TKI DPRI RI lainnya menaruh perhatian khusus terhadap keluh kesah para TKI Arab Saudi pemohon amnesti yang mengharapkan adanya bantuan pemerintah pusat.

Belum terdengar Timwas bertemu dengan Kemlu, Kemenaker dan BNP2TKI untuk mengkaji kemungkinan pemerintah menanggung biaya kepulangan bagi para WNI/TKI yang memanfaatkan program amnesti.

Belum terdengar pula Timwas mempertimbangkan masukan kepala BNP2TKI terkait pengecualian pelarangan penempatan TKI PRT bagi TKI eks-amnesti dan ingin kembali bekerja secara resmi di Arab Saudi.

Jika benar Timwas berpihak kepada TKI, mestinya tanggap terhadap semua aspirasi TKI yang sampai ke meja Timwas. TKI tak hanya ramai di Hong Kong! Dengarkan juga panggilan dari TKI Arab Saudi.

Namun, jika hanya datang berkunjung tanpa ada tindak lanjut yang nyata semuanya akan sia-sia belaka. Efektifitas dan hasil dari kunjungan kerja Timwas ke luar negeri patut dipertanyakan.

Salah satunya, apakah revisi UU 39 Tahun 2004 sudah mulai digarap?

Untuk mengukur efektivitas kinerjanya, maka akan terlihat sejauh mana perubahan yang dirasakan para TKI Hong Kong pasca kunjungan Timwas.

Ataukah jangan-jangan kunjungan Timwas ke Hong Kong bulan Februari lalu hanyalah sebuah Festivalisasi TKI dengan Hong Kong sebagai panggungnya?

(TTG, 20/04)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh